Wednesday, May 28, 2014

Tugas Resume SIP Ke-9



Produksi Dibantu Sistem Informasi Geografis Kebisingan Dan 
Peta Abdurrahman Geymen Bülent Bostanci, Turki (Kelompok 7)

.LEQ telah diukur selama 5 menit selama pagi, siang hari dan malam jam per setiap titik dengan menngunakan alpikasi Arcgis
selama 5 hari kerja. Nama poin, lokasi, pengukuran LEQ nilai waktu dan telah tercatat sebagai Excel file data. Program ArcGIS 9,3 telah digunakan untuk menganalisa kebisingan dan membuat suara peta (ArcGIS. Tahun 2008 ).  
Koordinat seperti 50 poin diperoleh dengan handy GPS telah dipindahkan ke perangkat 
lunak ArcGIS sebagai titik layer dan disalutnyalah itu dengan citra satelit .

Gambar 1

Peta Lokasi dalam Citra Satelit

 Metoda yang digunakan :
·     Jarak Berat (IDW) metode adalah perhitungan permukaan data dengan tidak diketahui nilai dengan menggunakan weighted titik data. Pada metode ini, berat digambarkan sebagai fungsi dari jarak antara poin. Sejauh ini, yang jauh lebih luas, lemahnya fungsi efek  (Doğru et al. , 2011).
·   Kriging adalah salah satu metode yang kuat bagi pengiraan permukaan. Kriging teknik membuat permukaan yang menggabungkan statistik properti diukur data (ESRI 2001). maka prosesnya dalam menggunakan Arcgis ini dengan cara hasil petra citra satelit tersebut di rubah menjadi raster, setelah itu analisis data tersebut dengan menggunakan Aplikasi Arcgis, tetapi sebelumnya untuk menganalisis data kita perlu data - data yang harus ada dan berkaitan dengan data yang kita teliti, misalnya kita akan menganalisis peta kebisingan maka kita harus mempunyai data kebisingan selama 1 hari tersebut untuk lebih jelasnya lihat gambar di bawah ini
Gambar 2

Proses Penggabungan  Data

IDW, OK dan RBF berdasarkan setara dengan terus menerus tingkat kebisingan pada waktupagi, siang hari dan malam. Peta Kebisingan diserap oleh IDW metode telah ditunjukkan  sebagai contoh dalam Gambar 2-4 ttujuannya diadakan penelitian ini untuk mngetahui tingkat bahaya kebisingan disuatu  kota dengan menggunakan Aplikasi Arcgis.


Tugas Resume SIP ke-8

Sistem Informasi Perencanaan
Developing Transit-oriented Strategies for Sanandaj City Center, Iran (Kelompok 13)

a.        Definisi PTK
Proses yang menyangkut dengan pengembangan kawasan mixe used dengan pelayanan publik di sekitar stasiun transit.dengan efisiensi tinggi dan kualitas tinggi.
1.        Variabel Terkait PTK

1.1      Tahap I
Elemen identifikasi mendasar dari TOD dan prinsip-prinsip utama penggunaan campuran pusat perkotaan berasal dari kajian literatur dan studi kasus.

1.2      Tahap II
Dalam penelitian ini, analisis SWOT diterapkan untuk mengembangkan strategi dan rencana aksi untuk keberhasilan pelaksanaan inisiatif PTK untuk pusat kota Sanandaj.

1.3      Tahap III
Pada tahap terakhir penelitian, strategi berasal dari proses analisis SWOT untuk mengatasi tantangan-tantangan yang ada di wilayah studi mengenai prinsip-prinsip PTK. 
b.        Kesimpulan
 
Gambar 1
Hasil Analisis Arcgis

Pola organik dari jaringan jalan, khususnya yang buntu, permeabilitas daerah ini terlalu lemah dan sebagian besar daerah tangkapan air terutama sejalan dengan karakter pedestrian oriented. Tapi layout jalan orthogonal telah dikenakan pada keluar kain organik dengan gerakan modern menciptakan masalah besar untuk konektivitas jaringan pejalan kaki dan keamanan gerakan. menunjukkan bahwa daerah tangkapan tidak memiliki hirarki yang cukup jaringan jalan dan ruang untuk gerakan efisien dan berhenti sistem transportasi umum.

Artinya Sistem Informasi Perencanaan bisa di gunakan dalam bidang ilmu perencanaan transportasi dengan memperlihatkan masalah masalah transportasi sehingga kita bisa memberi solusi melalui hasil analisis konektivitas jaringan jalan dan ruang untuk gerakan efisien serta sistem transportasi umum dalam Sistem Informasi Perencanaan

Tugas Resume sip kE-7

Memfasilitasi Perencanaan dan Manajemen Perkotaan di Tingkat Daerah  Melalui Pengembangan SDI
(Studi Kasus Lahore - Pakistan)
(Kelompok 12)

a.      SDI DAN PENATAAN RUANG
  1. Pada dasarnya dalam tatana SDI, proses perencanaan tata ruang lebih bersifat sebagai pengguna (user) data spasial dimana data spatal diperlukan dalam proses penataan ruang
  2. Selain peta dasar, dalam perencanaan tata ruang juga memerlukan data spatial yang terkait dengan kondisi fisik wilayah, seperti kerentanan terhadap bencana, keanekaragaman hayati, oseanografi, iklim dan geofisika, serta data fisik wilayah lainnya
  3. Pembangunan data spatial pada umumnya memerlukan pembiayaan yang reltif besar baik dalam proses pengadaan data mentah, pengolahan dan analisa data maupun penyajian dalam wujud peta. Umunya diperlukan oleh lebih dari stau instansi, akan lebih bermakna bola dapat saling diperlukan (dapat di akses oleh instansi terkjait)
  4. Pertukaran data antar instansi terkait, bila dapat terwujud akan memberikan efisiensi pemanfaatan dana yang sangat signifikan, sekurangnya biaya proses pengolahan / analisa data dapat dihemat

b.      STUDI KASUS: LAHORE – PAKISTAN
Kota Lahore adalah kota terbesar ke-2 dari Pakistan setelah Karachi dengan penduduk perkotaan dari 5,1 juta (Sensus Penduduk Organisasi, 2004) menempati area urban dari 343 KM persegi (NESPAK, 2004).
Menyadari pentingnya informasi spasial, Pemerintah  Pakistan (2001) mewajibkan setiap dewan lokal untuk mempersiapkan GIS  sistem informasi berbasis lahan dalam waktu tiga tahun. Namun sejauh ini, pemerintah daerah  dengan keterampilan dan sumber daya yang terbatas tidak membuat kemajuan luar biasa  terutama tidak adanya pedoman atau model.


c.      ISU-ISU TERTENTU DALAM KASUS LAHORE SEBAGAI BERIKUT:
1.    Sekelompok besar orang tidak mengetahui ketersediaan informasi spasial.
2.    Tidak adanya metadata mempengaruhi penemuan dan informasi pemahaman isi
3.    Integrasi informasi dari tingkat yang berbeda dengan berbagai skala, standar dan isi yang bermasalah mengurangi utilitas informasi.
4.    Tidak adanya informasi spasial yang tepat dan pengetahuan yang menyebabkan duplikasi dan pemborosan sumber daya dan waktu yang mengarah ke kurang informasi pengambilan keputusan.
5.    Pengumpulan informasi yang sama penundaan proyek dan dalam banyak kasus cepat perubahan dalam realitas tanah mengurangi efektivitas rencana dan sulit untuk melaksanakan.
6.    Informasi tertentu tidak dapat ditagih di kemudian hari seperti cuaca dan keputusan pembuat harus bergantung pada pertimbangan dan estimasi.
7.    Tidak ada pedoman yang tepat atau model yang tersedia kepada pihak berwenang lokal untuk berbagi informasi.

d.      Kesimpulan & Rekomendasi
KESIMPULAN :
          Sebagai perencana kota sangat bergantung pada beragam jenis informasi dari berbagai departemen di berbagai tingkat pemerintah. Oleh karena itu, menjadi bermasalah  mengelola, berbagi, mengintegrasikan dan efektif memanfaatkan tersedia menginformasikan.
          Perancangan SDI lokal pada konsep modern mendistribusikan komputasi seperti SOA dan pelaksanaannya tidak hanya akan meningkatkan  berbagi informasi dan aplikasi, tetapi juga akan membantu perencana perkotaan dan  pengambil keputusan untuk menghabiskan lebih banyak waktu dan sumber daya pada pembuatan kebijakan peningkatan.


REKOMENDASI

         Ketersediaan informasi dalam format yang sesuai seperti tiga dan empat dimensi tidak hanya akan meningkatkan partisipasi publik dan transparansi, tetapi juga akan meningkatkan peluang bisnis. Ini akan menghemat waktu berharga dan sumber daya perencana dan memfasilitasi mereka dalam perencanaan dan manajemenyang lebih baik. Oleh karena itu, disarankan agar perencana di negara-negara berkembang harus mendapatkan keuntungan dari penelitian di negara maju  negara dan memulai upaya untuk merancang dan mengimplementasikan SDI untuk keputusan.

Tugas Resume SIP ke-6


Kelompok 9


Resume Jurnal
Judul : Assessing Implications of Land-use and Land-cover Change (LUCC) Dynamics for Conservation of A Highly Diverse Tropical Rain Forest
Alejandro Flamencon Sandoval, Miguel Martýnez Ramos, Omar Raul Masera

a.   Tujuan
Jurnal ini difokuskan pada perubahan tutupan lahan hutan ke non-hutan (deforisasi) dari waktu ke waktu yang berdampak kepada keanakaragaman hayati, dengan melakukan analisis dinamika deforisasi di Selva El Ocote menggunakan metode integrasi antara penginderaan jauh dengan sistem informasi geografis (SIG) dan alat-alat standar untuk analisis.


Gambar 1
Peta Penggunaan lahan yang didigit pada aplikasi Arcgis



b.   Profil
Wilayah studi memiliki kondisi fisik wilayah yang beraneka ragam. Diantaranya memiliki toporafi yang tidak rata berkisar antara 60 – 2080 mdpl, curah hujan yang tinggi dan memiliki kelembaban yang tinggi pula, memiliki susunan struktur geologi berupa karst, memiliki 20 kategori tutupan lahan, serta lebih dari 100 jenis tanah. Daerah ini termasuk kedalam salah satu jenis hutan tropis lembab yang ada di Mexico yang didalamnya terdapat lebih dari 2000 spesies tumbuhan dan 97 spesies mamalia.

c.   Metode analisis
1.      Analisis Tutupan Lahan
2.    Analisis Perubahan Tutupan Lahan dan Penggunan Lahan
3.    Analisis Probabilitas Transisi Penggunaan dan Tutupan Lahan
4.    Analisis Laju Deforestasi
5.    Skenario Masa Depan

d.   Perubahan Tutupan dan Penggunaan Lahan ( hasil analisis )
Gambar  2
hasil analisis 
e.   . Laju Deforestasi ( hasil analisis )
 
Gambar 3
Tabel Hasil Analisi Penggunaan Lahan Menggunakan Arcgis

Setelah dianalisis terjadi laju deforestasi yang tinggi mencapai 6,76 % per tahun. Sebagian besar deforestasi terjadi pada hutan hujan tropis menjadi hutan yang terbakar untuk pembukaan lahan.
Setelah dilakukan proyeksi terhadap penggunaan dan tutupan lahan dengan menggunakan data 1986 ke 1995 hinga tahun 2030, lahan yang ditutupi oleh hutan tropis akan kehilangan 29 % dari luas saat ini pada tahun 2030. Sementara jika menggunakan 1995 ke 2000 hasilnya 89 % dari luas hutan hujan tropis saat ini akan hilang pada tahun 2030

Tugas Resume SIP ke-5

MENGGUNAKAN GIS
SEBAGAI ALAT PERENCANAAN LAHAN PERTANIAN
 Kelompok 5 

a.        Kegunaan GIS dalam Perencanaan Lahan Pertanian
1.         Alat penting dalam perencanaan penggunaan lahan.
2.         Saling berhubungan untuk mewakili sumber tak ternilai dan kurang dimanfaatkan
3.        Membuat proses pengambilan keputusan yang lebih akurat, otomatis, dan efisien.

b.        Fungsi GIS dalam Perencanaan Lahan Pertanian
1.         Menyambungkan beberapa lapisan data ke satu lokasi dan memanipulasi tampilan data untuk memvisualisasikan tren dan pola.
2.        informasi tanah tabulasi untuk rujukan geografis dan mudah dikonversi ke peta geografis dan interpretatif, menyediakan pengguna dengan representasi visual dari data tabular.

c.        Keuntungan Menggunakan GIS dalam Perencanaan Lahan Pertanian
1.         Memungkinkanakses ke informasi dalam jumlah besar secara cepat dan efisien.
2.        Sistem pemetaan tematik, yang berarti dapat menghasilkan peta berdasarkan tema-tema seperti tanah atau hidrologi.
3.        Produk yang dinamis bukan produk Statistik
DOQ adalah digital, versi geospatially dikoreksi dari foto udara. The DOQ digunakan dalam proyek ini memiliki resolusi 1 meter, yang berarti bahwa 1 pixel dalam gambar mewakili 1 meter di atas  tanah.setelah itu mnyesuaikan batas tanah Merupakan survei tanah dikoreksi baru. untuk itu tahapan yang perlu dikakukan adalah melihat keadaan sebenarnya, lalu mendigit di Arcgis setelah itu menganalisis daa, untuk lebih jelasnya lihat gambar dibawah ini :
Gambar 1
Proses Pembuatan Lahan Pertanian Pada Aplikasi Arcgis

Tujuan penelitian ini adalah untuk memberikan informasi yang lebih detai mengenai  lahan pertnian .Pusat ini juga ingin mencari strategis penelitian agroforestry dan daerah perluasan lahan pertanian untuk memanfaatkan tanah yang sesuai dan sumber daya air. 




Tugas Resume SIP Ke-4


APLIKASI GIS DALAM URBAN & REGIONAL PLANNING

Aplikasi Penginderaan Jarak Jauh, GIS dan GPS Untuk Rencana Pengelolaan Perkotaan Yang Efisien
Studi Kasus - Kota Hyderabad
Rasio perbandingan perkotaan dan pedesaan di tahun 2001 di India adalah 38, yang berarti bahwa setiap 100 daerah pedesaan, berbanding dengan 38 daerah perkotaan di India, tahun 2001. gambar di bawah ini menjelskan bahwa peningkatan urbanisasi pada tahun 1901-2001 di desa yaitu mnegalami penurunan dari 90 menjadi 75%, sedangkan untuk kota meningkat yaitu dari 10 % menjadi 20% . untuk lebih jelasnya lihat gambar yang ada di bawah ini 

Gambar 1
Persen  urbanisasi di India
Indikator Dasar Dan Pola Urbanisasi Di India
Indikator dasarnya adalah sebagai berikut terjadi peningkatan arus urbanisasi, tidak kuatnya kegiatan industrialisasi yang berbasis ekonomi, kepadatan penduduk yang menyebabkan kemiskinan, adaya daya dorong perdesaaan, dan memburuknya kualitas arus urbanisasi

Masalah Urbanisasi
Masalah urbaniasi yang terjadi di kota india antara lain Permukiman Kumuh, Paskan air Terbatas, banyaknya rakyat yang miskin, kurangnya karakteristik fungsinal pada kota india, ketimpangan sosial serta degradasi lingkungan
Data Geografis mentah tersedia dalam berbagai bentuk, baik digital maupun analog seperti toposheets, foto udara dan citra satelit. Dalam penelitian ini, basis layer yang dibuat berdasarkan toposheet adalah seperti gambar dibawah ini
    a.     
 Gambar 2
Prses Penggunaan Aplikasi Arcgis

Gambar 3
Proses Penggunanan Aplikasi ArcgisE

Elemen produk perencanaan perkotaan mencakup :
1.        Rencana Perspektif
2.       Rencana Pembangunan
3.       Rencana Tahunan
4.       Skema dan proyek
5.       Pendekatan Partisipatif untuk penyediaan tanah dan pembangunan infrastruktur.
GIS dan GPS dan ke dalam sebuah Sistem Informasi Terpadu, yang telah memainkan peran penting tidak hanya dalam memerangi pertumbuhan perkotaan yang tidak terkendali, namun digunakan untuk mengurangi banyaknya dampak negatif yang terjadi
solusi dalam pengambilan keputusan dengan menyajikan data yang dibutuhkan untuk melakukan koreksi dan penilaian yang akurat terhadap perkotaan yang direncanakan

Sunday, May 4, 2014

Rangkuman SIP ke-3 (Jurnal Perencanaan Ruang Kota Bandung di Tahun 2005)

THE CITY OF BANDUNG AND REVIEW SPATIAL PLANNING STRATEGIES IN 2005
Kondisi Topografi dibandung dibedakan menjadi 2 bagiaan yaitu daerah pegunungan dengan daerah persawahan, dalam jurnal ini mempahas rencana pengembangan wilayah di kota bandung pada tahun 2005 


Gambar 1. Kondisi Topografi Bandung

Gambar 2.
Peta Wilayah Pengembangan Kota Bandung


 gambar diatas adalah peta wilayah pengembangan Kota bandung yaitu wilayah yang akan dikembangkan adalah pada WP Cibeunying, karees. Bojnegara,Tegalega,Gedebage dan Ujung berung  `
Gambar 3.
Peta Rencana Kota Bandung


Gambar 4. Peta Jumlah kepadatan di Kota Bandung

Gambar 5.
 Rumah Kumuh yang Merupakan masalah Lingkungan di Kota Bandung

Gambar 6.
Oermsalahan yang sering dijumpai di Kota Bandung yaitu Kemacetan 


Adapun pentingnya penggunaan Sistem Informasi Perencanaan yaitu GIS dalam Jurnal ini adalah :

1.Digunakan untuk mengetahui potensi Sumber Daya yang dimiliki oleh wilayah perencanaan
2.Digunakan untuk mengetahui kendala fisik suatu wilayah perencanaan
3.Digunakan untuk menunjukkan arah perkembangan dari suatu wilayah perencanaan
4.dll